Saturday, August 29, 2026
Kesiswaan

Memadukan Nilai Kebangsaan dan Keagamaan melalui Peringatan HUT RI Ke-81 dan Maulid Nabi Muhammad, SAW

SMA Negeri 3 Lumajang – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Maulid Nabi pada 24 Agustus 2026 menjadi momentum penting untuk memadukan rasa syukur atas kemerdekaan dengan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Pawai payung hias dan parade siswa yang diiringi musik orisinil Kuntulan khas Banyuwangi mewarni Jalan Jendral Panjaitan – Kapten Suwandak – hingga Jalan Komodor Yos Sudarso.

Acara yang dibuka oleh Bapak Kepala SMA Negeri 3 Lumajang Bapak Moh. Yatim Khudlori, M.Pd ini menampilkan acara yang sedikit berbeda dari biasanya. Aneka payung dihias dengan cantik dan estetis. Para siswa berbusana muslimah dan memakai hasduk merah putih berjajar rapi melalui jalan dan rute yang telah ditentukan oleh panitia. Sebuah perpaduan yang memberi simbol bahwa giat ini dilaksanakan untuk merayakan dua perayaan sekaligus.

Aksi yang diawali dengan opening ceremony dan salawat Al Banjari Remas Asy-Syuhada di lapangan basket ini benar-benar menyita perhatian warga dan pengguna jalan. “Wah, belum pernah ada pawai payung seperti ini di Lumajang. Cantik sekali.” Tutur Susi bersama putri kecilnya yang sempat menyaksikan pawai ini di pinggir jalan sambil memarkir kendaraannya.

Nilai apakah sebenarnya yang ingin ditanamkan dalam perayaan pawai payung ini? Mari sejenak kita mencari tahu makna dan keterkaitan hubungannya dengan nilai-nilai kehidupan.

Payung memiliki makna simbolis kebersamaan dan perlindungan. Bisa juga bermakna semangat untuk mengayomi. Terdapat dua hal yang dikolaborasikan dalam perayaan pawai payung, parade siswa, hasduk merah putih, dan irama musik orisinil Kuntulan Banyuwangi.

Berikut ini merupakan makna dan nilai filosofis yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Simbol Perlindungan: Payung secara universal bermakna sebagai sarana pelindung dari terik panas dan hujan, yang dalam konteks pawai diterjemahkan sebagai kepedulian dan kepekaan sosial untuk dapat saling melengkapi dan melindungi.

Pengayoman dan Kebersamaan: Berjalan bersama di bawah naungan payung adalah cerminan dari konsep mengayomi (memberi rasa aman) dan ngemong (merawat dengan bijak) demi menciptakan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

Persatuan dalam Keberagaman: Beraneka ragam warna dan bentuk model payung dalam pawai menggambarkan kemajemukan masyarakat (kebhinnekaan) walau berbeda corak, motif, dan warna, namun tetap bisa berjalan beriringan secara selaras pada momentum ketika Indonesia telah memasuki kemerdekaan di usia fantastis yaitu 81 tahun.

Perpaduan nilai kebangsaan dan keagamaan adalah nilai yang sebenarnya ingin ditanamkan dalam kegiatan pawai payung dengan menampilkan berbagai sisi dan dimensi estetika dan kreativitas setiap anak yang telah mengkreasikannya sebagai wujud bahwa mereka merupakan generasi yang peduli pada makna persatuan sekaligus meneladani bahwa Rasulullah, SAW sebagai panutan dalam berbagai aspek kehidupan. Tim Jurnalistik Smaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *